Warungjambe, Sayang, Cianjur, 43213
+62 852-1086-0707
yayasan@al-ummi.or.id

Menggapai Keikhlasan di Bulan Ramadhan

Menggapai Keikhlasan di Bulan Ramadhan

Menggapai Keikhlasan di Bulan Ramadhan Memurnikan ibadah anda hanya untuk Alloh subhanahu wata’ala menghadapkan hati hanya untuk menyempurnakan ibadah anda pada-Nya, semata-mata demi mencari keridhoan-Nya dan mengharapkan pahala-Nya, semua itu adalah makna ‘keikhlasan’ yang tidak lain adalah syarat utama diterimanya setiap amal. Ikhlas adalah kata yang agung dan inti utama yang tidak akan diterimanya setiap amal, ikhlas adalah kata yang agung dan inti utama yang tidak akan diterima suatu amala tanpa keikhlasan.

Setiap perbuatan kita hendaknya berpondasikan pada ikhlas dan ittiba’

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (Qs. Al Mulk: 2)

Yang terkait dengan makna ahsanu amalan tersebut, Fudhoil bin ‘Iyadh berkata, “Yaitu paling seikhlas dan sebenar-benarnya perbuatan”. Sesungguhnya perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar belumlah dapat diterima. Pun sebaliknya, apabila perbuatan itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima, sampai memenuhi kriteria tersebut: ikhlas dan benar. Ikhlas adalah apabila ibadah itu tulus untuk Alloh subhanahu wata’ala dan benar ialah apabila sesuai dengan sunnah Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam.

Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mengorientasikan maksud kita dalam beribadah tulus karena Alloh, dengan niat mendekatkan diri kepada Alloh dan memperoleh pahala sebanyak-banyaknya dari-Nya. Mengharapkan Alloh dan akhirat adalah amal hati yang paling mulia, sebagaimana mengharap kepada selain Alloh adalah perbuatan hati yang paling tercela.

“Barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Qs. Asy-Syuro: 20)

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Qs. Hud : 15-16)

Dua ayat tersebut menunjukkan bahwa asal setiap perbuatan adalah keinginan (niat). Dengan niat itulah amal-amal kita akan dihitung dan ditimbang. Dan sekecil apapun dari amal perbuatan akan dibalas dan akan berlipat lipat pahalanya apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas, sebagaimana sabda Rasululloh sholallohu’alaihi wasallam:

“Sesungguhnya engkau tidak menafkahkan apapun yang engkau harapkan dengannya keridhoan Alloh kecuali engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan yang juga berupa suapan yang engkau berikan kepada istrimu.” (HR. Al-Bukhori)

Begitu pula amal ibadah atau perbuatan besar, niat jugalah yang bisa menjadikannya terangkat ke derajat yang paling tinggi atau turun ke derajat yang paling rendah. Bahkan terkadang amalan yang agung tetapi kering dari keikhlasan malah menjadikan manusia hancur karenanya.

Saudaraku, jangan pernah mengira bahwa ikhlas adalah sebuah perkara yang sepele karena ia menjadi acuan setiap perbuatan, Masa depan hamba juga kembali kepadanya. Barang siapa yang kuat niatnya karena Alloh, ia pun akan selamat, tetapi bagisiapa yang kuat niatnya karena Alloh, ia pun akan selamat. Tetapi bagi siapa yang me-ngabaikannya demi dunia, ia akan hancur berantakan.

Sahal Ats-Tsauri mengatakan, “Tidak ada yang lebih berat bagi hawa nafsu seorang manusia dibanding ikhlas, karena sesungguhnya hawa nafsu itu tidak mendaptkan apa-apa ketika ia sudah ikhlas.” Yusuf bin Al-Husain Ar-Rozi berkata, “Hal yang paling agung di dunia ini adalah ikhlas, berapa kali aku berusaha untuk menghapuskankan riya dari hatiku, namun dia seakan selalu tumbuh di sana dengan berbagai macam warna dan bentuk.”

Para ulama besar telah mencermati hati mereka dari hal-hal yang kecil maupun besar, karena takut akan perginya keikhlasan dari jiwa. Nafi’ bin Jibril pernah ditanya, “Mengapa engkau tidak pergi mensholati jenazah?”, Ia menjawab, “Tetaplah kamu di situ sejenak sampai akau berniat,” Nafi’ pun terpekur sejenak, dan setelah itu baru berujar, “Ayo!”

Jangan Terheran dengan kematangan seperti ini, sebab para ulama salaf adalah komunitas yang sadar bahwa menghadirkan spirit keikhlasan karena Alloh dalam setiap perbuatan akan dapat melipat gandakan pahala. Mereka pun berusaha semampunya untuk menjaga-jaga agar mereka selalu mendaptkan tambahan amal.

Saudaraku yang dicintai oleh Alloh…
Diterimanya segala amal pada bulan Romadhon maupun bulan-bulan lainnya, akan sesuai kadar balasannya berdasarkan kadar niat dan kadar pengharapan yang melatar belakanginya. Kedua poin tersebut (niat dan pengharapan) adalah inti dari keikhlasan.

Oleh sebab itu, jagalah agar ibadah dan amalan anda tetap dalam koridornya, dan jauhkanlah ia dari sifat riya’, kesombongan, dan mencari-cari perhatian makhluk. Sebab “Semua yang tidak untuk Alloh akan lenyap.”, seperti yang dikatakan oleh Ar-Rabi’ bin Al-Khutsaim.

 

 

#http://www.hasmi.org/keihklasan-di-bulan-romadhon/

// Script by jsudrajat